Romadhon Bulan Tarbiyah & Sedekah
Khotib: Dharma Setyawan, MA
Khotbah Jumat Masjid Sabilil Mustaqim
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah swt
Marilah kita awali pertemuan yang penuh berkah ini dengan memuji Allah SWT. Bukan sekadar rutinitas di lisan, tapi sebuah pengakuan jujur dari hati bahwa jika bukan karena kasih sayang-Nya, Nikmat Sehat darinya. kita tidak akan mungkin sanggup melangkahkan kaki ke rumah-Nya hari ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan abadi kita, Nabi Muhammad SAW.
Selaku khatib kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Karena di saat semua yang kita banggakan di dunia ini akan ditinggalkan—jabatan akan dilepas, harta akan diwariskan, dan keluarga akan merelakan—maka hanya satu hal yang akan setia menemani kita di alam kubur nanti, yaitu ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:”
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kita telah memasuki tamu agung, yakni bulan Romadhon. Kerinduan kepada Romadhon dilandasi dengan Iman di dalamnya terdapat kewajiban puasa dan segudang kemuliaan yang dijanjikan Allah. Di tengah dunia yang penuh dengan janji-janji palsu manusia, Romadhon datang sebagai bukti janji Allah yang pasti ditepati (Innaka la tuhliful mii’aat).
Namun, tahukah kita bahwa puasa bukanlah ibadah yang baru bagi umat Nabi Muhammad SAW? Dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 yang baru saja khotib bacakan, Allah menegaskan: “Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ibadah puasa adalah warisan para nabi terdahulu. Sejarah mencatat betapa berat dan luar biasanya puasa umat sebelum kita:
Nabi Adam AS: Beliau menjalankan puasa tiga hari setiap bulan yang kita kenal sebagai Ayyamul Bidh. Riwayat menyebutkan puasa ini adalah bentuk syukur saat tubuh beliau kembali memutih setelah menghitam terpapar matahari saat diturunkan ke bumi.
Nabi Nuh AS: Dalam Ibnu Katsir, Nabi Nuh berpuasa setahun penuh kecuali pada dua hari raya sebagai bentuk syukur setelah diselamatkan dari banjir bandang.
Nabi Musa AS: Beliau berpuasa 40 hari saat bermunajat di Bukit Sina. Umat Yahudi pun memiliki puasa Asyura dan Yom Kippur yang sangat ketat; dilakukan selama 25 jam penuh tanpa makan, minum, bahkan dilarang memakai sepatu kulit dan mandi.
Nabi Daud AS: Beliau menjalankan puasa yang paling dicintai Allah, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.
Nabi Isa AS: Beliau dan pengikutnya diperintahkan puasa 40 hari. Puasa mereka sangat berat, terkadang dilarang memakan sesuatu yang bernyawa (daging) atau berpuasa penuh 24 jam.
Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah SWT,
Melihat betapa beratnya puasa umat terdahulu, kita harus merasa malu jika masih mengeluh menjalankan puasa Romadhon. Puasa kita hanya dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Kita masih diperbolehkan makan enak saat berbuka, masih boleh mandi, dan menggunakan wewangian.
Keringanan ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW, sebagaimana kekhawatiran Nabi Musa AS saat peristiwa Mi’raj bahwa umat ini mungkin lemah dalam ibadah. Bahkan perintah Sholat wajib 50 waktu akhirnya berkurang menjadi 5 waktu.
Jika umat terdahulu sanggup berpuasa dengan aturan yang lebih berat demi meraih ketakwaan, maka kita yang diberi kemudahan seharusnya lebih mampu untuk mencapainya.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, puasa adalah ibadah lintas zaman yang diwajibkan juga kepada umat-umat terdahulu. Namun, Romadhon bagi umat Muhammad SAW bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah madrasah besar, sebuah Bulan Tarbiyah (Pendidikan).
Rasulullah SAW bersabda:
> “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
>
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Romadhon adalah momentum terbaik untuk mendidik diri dan generasi muda kita. Masjid Sabilil Mustaqim yang kita cintai ini terus berkomitmen menjadi pusat pendidikan masyarakat. Melalui Romadhon, Masjid dimasa depan penting untuk menghidupkan kajian-kajian: mulai dari Tafsir Quran, Sirah Nabawiyah, Malam bina iman dan taqwa para Pemuda, Ta’lim Ibu-Ibu, dan Pesantren Wirausaha Payungi. hingga pembiasaan Sholat Malam Berjamaah. Inilah esensi tarbiyah (pendidikan); mengubah kebiasaan buruk menjadi amal shalih, dan mendekatkan generasi muda kepada agama, pengetahuan dan gerakan.
Selain sebagai bulan pendidikan, Romadhon adalah Syahrul Jund atau bulan kedermawanan. Ibnu Abbas RA menceritakan:
> “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau jauh lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan…” (HR. Bukhari)
>
Di masjid kita, gerakan sedekah telah banyak diwujudkan melalui berbagai program: Infaq Beras, Kencleng warga, Jumat Berkah Sayuran, sampai Makan Berkah Jumat (MBJ). Kita menyadari bahwa melengkapi fasilitas Masjid adalah tanggung jawab bersama secara gotong royong. Apalagi dengan adanya Kampung Romadhon Payungi sebagai basis ekonomi warga, ikhtiar lebih dari 7 tahun sebagai ladang amal bagi kita untuk saling membantu sesama. Ummat Berdaya, Masjid Berjaya. Tagline penting ketika masyarakat sejahtera mereka dapat berlomba-lomba menegakkan agama. Insyallah tahun ini Qurban Masjid Sabilil Mustaqim lebih dari 8 ekor, setiap tahun harus lebih baik lagi dari tahun sebelumnya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Puncak dari tarbiyah dan sedekah ini akan kita tutup di 10 hari terakhir melalui Iktikaf. Kita ingin Masjid Sabilil Mustaqim hidup dengan lantunan dzikir. Dan di sinilah peran luar biasa kaum Ibu, yang dapat berlomba pahala melalui jadwal penyediaan Sahur bagi jamaah Iktikaf. Setiap suap makanan yang dimakan oleh orang yang beribadah, pahalanya mengalir deras kepada yang menyediakannya.
Rasulullah SAW bersabda:
> “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
>
Mari kita jadikan Romadhon tahun ini lebih bermakna. Jadikan masjid kita pusat ilmu, pusat kedermawanan, dan pusat perubahan bagi lingkungan kita.
Semoga Allah mempertemukan kita dengan Romadhon dalam keadaan sehat dan iman yang kuat.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ.
KHOTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sebagai penutup, marilah kita bulatkan tekad untuk menyukseskan agenda Rimadhon di Masjid Sabilil Mustaqim. Mari dukung pendidikan berbasis gotong-royong, beri ruang anak muda berinovasi, hidupkan ekonomi warga agar kita semua dapat terus bersedekah, dan persiapkan diri untuk meraih Lailatul Qadar melalui Iktikaf di akhir bulan nanti kita tidak pernah tahu bahwa Romadhon ini ternyata Romadhon terakhir kita. Lapangkan dada, jauhi iri, dengki, benci dan mari menjadi hamba yang saling meminta maaf dan memaafkan.
Mari kita berdoa agar Allah memampukan kita menjadi hamba yang bertaqwa.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا شَاكِرِيْنَ، حَمْدًا نَاعِمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ



